Non-Domestic Waste Processing of Mask Industry in Gunung Kidul Regency

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Salah satu diantara masalah di dunia yang banyak mendapat perhatian adalah pencemaran lingkungan. Meningkatnya taraf hidup masyarakat di negara berkembag menimbulkan semakin banyak pula variasi zat pencemar yang dihasilkan dan bila dibiarkan dalam tanah atau dibuang ke air akan mencemari dan merubah sumber daya yang ada. Kehadiran limbah non domestik dapat mempengaruhi kesejahteraan hidup masyarakat dan juga mengganggu kelestarian lingkungan hidup, sehingga perlu adanya penanganan dan pengelolaan.
Limbah terdiri dari limbah domestic dan non domestic. Air limbah domestik berasal dari rumah tangga, pemukiman, pasar, lembaga/kantor, rekreasi, dll. Sedangkan limbah non domestik berasal dari limbah sisa produksi (industri). Sesuai dengan kondisi dan kebiasaan masyarakat memungkinkan perlu ada penanganan air limbah non domestik. (Sugiharto, 1987).
Pengelolaan limbah diartikan sebagai upaya pencegahan terhadap polusi akibat perilaku buangan padat, cair dan gas agar tidak mencemari lingkungan yaitu tanah, udara dan air. Dengan kata lain, pengelolaan limbah merupakan suatu usaha untuk mengolah limbah dengan tujuan untuk meminimalkan beban pencemaran ini dapat diolah dan memenuhi standar baku mutu yang telah ditentukan. (Tjokrokusumo, 1998)
Saat ini Dusun Bubung, Gunungkidul belum memiliki sarana pengolahan limbah non domestik. Limbah padat yang dihasilkan hanya dibuang ditempat-tempat tertentu yang kemungkinannya sangat besar untuk mencemari lingkungan. Limbah cair yang ada hanya dibuang ke tanah atau lantai begitu saja. Limbah cair yang dihasilkan memang hanya sedikit tetapi apabila tidak diperhatikan dampaknya akan sangat berbahaya.
Dalam perencanaan pengolahan limbah non domestik pembuatan topeng di Dusun Bubung ini, direncanakan dengan memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada, diharapkan hasil buangan sesuai dengan standar baku mutu yang telah ditentukan.

1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pada latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Apakah ada limbah yang berdampak langsung dan sangat berbahaya pada lingkungan?
2. Sejauh manakah penanganan limbah saat ini dilakukan?
3. Bagaimana cara pengelolaan limbah pembuatan topeng?
4. Apakah potensi yang bisa dikembangkan dari limbah pembuatan topeng?
5. Apa yang bisa dihasilkan dari pengolahan limbah pembuatan topeng?

1.3. TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui limbah non domestik yang dihasilkan dari pembuatan topeng di daerah Gunung Kidul.
2. Mengetahui cara pengolahan limbah non domestik pembuatan topeng dengan tepat.
3. Mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh limbah non domestik pada lingkungan daerah industri topeng di Gunung Kidul.
4. Mencegah pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh pengolahan limbah yang tidak tepat.

1.4. MANFAAT PENELITIAN
1. Penelitian ini berkaitan erat dengan mata pelajaran Biologi dan Kimia tentang pengolahan limbah untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Sehingga dengan adanya penelitian ini diharapkan kita akan lebih memahami tentang pencegahan pencemaran lingkungan.
2. Penelitian pada industri pembuatan topeng di daerah Gunung Kidul ini sebagai objeknya sehingga diharapkan para pengrajin topeng nantinya dapat mengolah limbah sisa industri dengan cara yang tepat.

1.5. METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian terletak di dusun Bobung, Patuk, Gunungkidul.
Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada Hari Selasa dan Rabu tanggal 13-14 April 2010.
Obyek Penelitian
Dalam penelitian ini materi yang akan diteliti adalah limbah dari industri topeng di daerah Gunung Kidul.
Teknik Pengumpulan Data
1) Wawancara
Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka.
Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tampa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit.
Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998)
Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang menjadi kekuatan metode wawancara :
a. Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer dengan memberikan penjelasan.
b. Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu.
c. Menjadi satu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah tidak dapat dilakukan.
Menurut Yin (2003) disamping kekuatan, metode wawancara juga memiliki kelemahan, yaitu :
a. Retan terhadap bias yang ditimbulkan oleh kontruksi pertanyaan yang penyusunanya kurang baik.
b. Rentan terhadap terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon yang kurang sesuai.
c. Probling yang kurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang akurat.
d. Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin didengar oleh interviwer.

Berdasarkan metode wawancara di atas, maka kami menyusun beberapa pertanyaan yang bersangkutan dengan pengolahan limbah non domestik yang akan kami ajukan ke narasumber.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain :
a. Limbah apa saja yang diperoleh dari industri kerajinan topeng?
b. Bagaimana kebiasaan masyarakat menempatkan limbah industri ini?
c. Sejauh ini apa yang akan Anda lakukan dengan limbah-limbah tersebut?
d. Apa saja yang bisa dihasilkan dari pengolahan limbah tersebut?
e. Apa saja yang dapat dihasilkan dari pengolahan limbah tersebut?
f. Adakah keuntungan secara materi dari hasil pengolahan limbah tersebut? Bila ada, berapa persen dari keuntungan pertama?
g. Apakah dari limbah-limbah tersebut ada yang berbahaya?
h. Bagaimana cara Anda membuan limbah-limbah yang sudah tidak bisa didaur ulang agar tidak merusak lingkungan?
i. Sejauh ini, adakah kasus pencemaran lingkungan akibat limbah-limbah yang diperoleh dari industri? Bila ada, seperti apa peristiwanya?
j. Selama ini, adakah penyuluhan dari dinas terkait tentang pengolahan limbah? Bila iya, seberapa sering? Siapa saja yang memberikan penyuluhan itu?
k. Apa kiat-kiat yang diberikan tentang pengolahan limbah?
l. Apakah setiap pengrajin di sini melakukan pengolahan limbah dengan cara yang sama?
m. Apa saja manfaat yang Anda dapatkan dari pengolahan limbah industri? Seberapa banyak pegrajin yang melakukannya?

Sedangkan narasumber yang akan diwawancarai antara lain :
a. Pemilik industri kerajinan topeng
b. Pengrajin topeng
c. Warga masyarakat sekitar

2) Observasi
Disamping wawancara, penelitian ini juga melakukan metode observasi. Menurut Nawawi & Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistimatik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian.
Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memehami proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peneliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara.
Menurut Patton (Poerwandari, 1998) tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian di lihat dari perpektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang diamati tersebut.
Menurut Patton (Poerwandari, 1998) salah satu hal yang penting, namun sering dilupakan dalam observasi adalah mengamati hal yang tidak terjadi. Dengan demikian Patton menyatakan bahwa hasil observasi menjadi data penting karena :
a. Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam hal yang diteliti akan atau terjadi.
b. Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan dari pada pembuktiaan dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif.
c. Observasi memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari.
d. Observasi memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara.
e. Observasi memungkinkan peneliti merefleksikan dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukan. Impresi dan perasan pengamatan akan menjadi bagian dari data yang pada giliranya dapat dimanfaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti.
Alat Bantu pengumpulan Data
Menurut Poerwandari (1998) penulis sangat berperan dalam seluruh proses penelitian, mulai dari memilih topik, mendeteksi topik tersebut, mengumpulkan data, hingga analisis, menginterprestasikan dan menyimpulkan hasil penelitian.
Dalam mengumpulkan data-data penulis membutuhkan alat bantu (instrumen penelitian). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 3 alat bantu, yaitu :
1) Pedoman wawancara
Pedoman wawancara digunakan agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Pedoman ini disusun tidak hanya berdasarkan tujuan penelitian, tetapi juga berdasarkan teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

2) Pedoman Observasi
Pedoman observasi digunakan agar peneliti dapat melakukan pengamatan sesuai dengan tujuan penelitian. Pedoman observasi disusun berdasrkan hasil observasi terhadap perilaku subjek selama wawancara dan observasi terhadap lingkungan atau setting wawancara, serta pengaruhnya terhadap perilaku subjek dan informasi yang muncul pada saat berlangsungnya wawancara.
3) Alat Perekam
Alat perekam berguna sebagai alat Bantu pada saat wawancara, agar peneliti dapat berkonsentrasi pada proses pengambilan data tampa harus berhenti untuk mencatat jawaban-jawaban dari subjek. Dalam pengumpulan data, alat perekam baru dapat dipergunakan setelah mendapat ijin dari subjek untuk mempergunakan alat tersebut pada saat wawancara berlangsung.
1.6. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Kebanyakan orang mengira kalau limbah tidak ada manfaatnya lagi. Tapi berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan, ternyata tidak sedikit limbah yang masih bisa dimanfaatkan. Salah satu pemanfaatannya adalah untuk hasil kesenian. Jika limbah dibiarkan begitu saja tanpa ada penanganan yang tepat, kemungkinan limbah tersebut dapat merugikan bagi lingkungan kita. Tentu saja ada sebagian limbah yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme, sehingga mengganggu kelangsungan hidup makhluk hidup yang terdapat di lingkungan tersebut.
Apabila limbah ditempatkan pada tempat yang kurang tepat, dapat menimbulkan terjadinya bencana alam, seperti banjir. Banjir itu sendiri disebabkan oleh penumpukan limbah yang menghalangi aliran sungai. Masih banyak lagi akibat dari pengolahan limbah yang kurang tepat. Oleh karena itulah, kami mengangkat masalah ini sebagai hal yang akan kami bahas.
Pembuatan laporan ini kami mulai dengan menentukan topik yang akan kami bahas. Setelah memperoleh sebuah topik, kami buat topik tersebut menjadi lebih spesifik dengan penulisan sebuah judul. Judul yang telah mencerminkan dan mencakup seluruh isi laporan kami. Masalah yang kami angkat adalah pengolahan limbah industri pembuatan topeng. Tentu kami mamilih judul tersebut tidak asal-asalan. Tetapi ada latar belakangnya. Latar belakangnya adalah kami ingin mengetahui bagaimana tindakan warga sekitar terhadap limbah hasil pembuatan topeng tersebut.
Dari pertanyaan-pertanyaan yang telah kami buat, munculah ide untuk membuat judul tersebut. Sedangkan tujuannya adalah kami ingin membuat limbah-limbah tersebut menjadi lebih bermanfaat untuk warga sekitar. Sehingga tidak menumpuk sia-sia. Kemudian metodologi pengumpulan data yang kami gunakan adalah wawancara dan obsevasi. Kami akan mengajukan beberapa pertanyaan pada warga sekitar. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentunya diharapkan dapat membantu kami untuk lebih mendukung pernyataan kami. Selain itu, kami membuat perencanaan jadwal penelitian. Yang terakhir, kami mencantumkan daftar pustaka, yang berisi sumber perolehan data kami. Dan tidak lupa kami membuat biodata kami, yang perperan sebagai peneliti.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Limbah
Limbah didefinisikan sebagai sisa atau buangan dari suatu usaha dan/atau kegiatan manusia. Limbah adalah bahan buangan tidak terpakai yang berdampak negatif terhadap masyarakat jika tidak dikelola dengan baik.
A. Kualitas suatu limbah dapat dinilai dari
a. Kondisi fisiknya yaitu warna, bau, zat padat yang terkandung di dalamnya, dll.
b. Kandungan kimiawi : zat organik (karbohidrat, lemak, minyak, pertisida, phenol, protein, dll), zat anorganik (alkalinitas, klorida, logam berat, nitrogen, fosfor, pH, sulfat, sulfur, dll), gas (hidrogen sulfida, metana, dll)
B. Limbah utama industri kayu:
a. Potongan kayu dan serbuk gergaji sebagai bahan dasar pembuatan perabot kayu.
Serbuk gergaji dan serpihan kayu dari proses produksi saat ini pada umumnya dimanfaatkan oleh pabrik sebagai bahan tambahan untuk membuat polywood, MDF (medium Density Fiber board) dan lembaran lain. Pada perusahaan dengan skala kecil dan lokasi yang jauh dari pabrik pembuat chipboard memanfaatkan limbah ini sebagai bahan tambahan pembakaran boiler di Kiln Dry. Sebagian pula dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai bahan bakar untuk industri yang lebih kecil seperti batu bata, kermaik atau dapur rumah tangga.
b. Limbah bahan finishing beserta peralatan bantu lainnya
Ini limbah terbanyak kedua setelah kayu dan pada kenyataannya (di Indonesia) belum begitu banyak perusahaan yang menyadari dan memahami betul tentang tata cara penanganan limbah tersebut. Beberapa masih melakukan pembuangan secara tradisional ke sungai dan ke dalam tempat pembuangan tertentu di dalam area perusahaan tanpa mempertimbangkan dampak lingkungannya. Bahkan ada beberapa perusahaan yang ‘menjual’ thinner bekas kepada penduduk yang tinggal di sekitar pabrik dan selanjutnya diproses untuk keperluan lain yang kurang jelas.
Ada sebuah organisasi di bawah pengawasan pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengelola limbah kimia tersebut. PT. PPLI (Prasadha Pamunah Limbah Industri) adalah perusahaan pertama di Indonesia yang mengelola limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
c. Limbah kimia sekunder sebagai hasil dari alat bantu dari sebuah industri kayu
Contoh dari limbah ini antara lain : accu dari mesin forklift, oli/pelumas bekas, lampu bekas, tinta dan lain-lain. Limbah ini belum begitu besar volumenya akan tetapi masih belum terkoordinasi dengan baik. Kebanyakan dari sejumlah industri tidak benar-benar ‘membuang’ limbah ini keluar dari pabrik. Kadang – kadang hanya disimpan di sebuah area engineer atau gudang barang bekas dan ditumpuk bersama – sama dengan peralatan bekas yang lain. Mereka hampir tidak tahu bagaimana solusi terbaik untuk melenyapkan limbah tersebut.

d. Bahan pembantu lain
Bahan-bahannya antara lain : seperti kardus, plastik pembungkus, kertas amplas bekas, kain bekas untuk proses finishing, pisau bekas dari mesin serut dan lainnya.

2.2. Pencemaran Lingkungan
Berdasarkan UU No.23 tahun 1997 pasal 1 ayat 1 tentang pengelolaan lingkungan hidup yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan, dan makhluk hidup , termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan mausia serta makhluk hidup lainnya.
Definisi pencemaran lingkungan menurut UU No. 23 tahun 1997 pasal 1 ayat 12 adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan/atau komponen lain kedalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya menurun sampai pada tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan baik atau maksimal.
2.3. Pengolahan Limbah
Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan.
Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan:
a. pengolahan secara fisika
b. pengolahan secara kimia
c. pengolahan secara biologi
Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi.
2.4. Cara Mengukur Limbah
A. pH (tingkat keasaman)
Tingkat keasaman yang dihitung dari skala pH untuk menghitung ion hydrogen yang ada.
Pada keadaan seimbang ± 10-7 molar konsentrasi (H+) dan (OH-) bereaksi membentuk H2O. Banyak reaksi berjalannya tergantung dari pH dan biasanya aktivitas biologi berjalan pada pH 6-8 merupakan indicator toksisitas akibat kelebihan keasaman atau sebagai indikator tingkat korosifitas dari proses efluen. Tetapi pH tidak menunjukkan kuantitas keasaman suatu larutan.
B. Alkalinitas
Alkalinitas pada limbah ditunjukkan karena kehadiran bikarbonat (HCO3), karbonat (CO3) atau hydroxide (OH-). Konsentrasi alkalinitas pada limbah penting dalam hal proses kimia yang akan dilakukan pada limbah. Alkalinitas diperoleh dari bahan inorganik (sulfuric acid, nitric acid) dan juga organik (sodium salt, potassium salt dan lain sebagainya). Alkalinitas ditunjukkan dalam mg/l CaCO3 yang menunjukkan besar konsumsi asam (acid cosuming ability) yang dilakukan dengan titrasi oleh asam standar.
C. Keasaman
Karena adanya ion CO2 atau H2CO3 (hasil reaksi CO2 dengan air). Diukur dalam bentuk jumlah CaCO3 yang digunakan untuk menetralisasi carbonic acid. Sumber keasaman bisa berasal dari organik dan inorganik.
D. Warna dan kekeruhan
Adalah karakteristik fisik yang merupakan konsentrasi partikel terlarut (solvable) atau tersuspensi dalam limbah. Pada industri warna dan kekeruhan akan menyerap sinar (panjang gelombang visible light) yang menentukan warna cairan tersebut, sedangkan kekeruhan akibat terpendarnya (scattering) dari cahaya yang bertabrakan (incident light) oleh kolodial atau material tersuspensi.
E. Organik Material
Untuk memperkirakan potensial pencemaran dari materi organik. Dapat dilakukan dengan cara BOD, COD ataupun TOC.
F. Temperatur
Polutan termal merupakan problem serius pada industri migas. Bisa memberikan dampak negatif pada badan air penerima serta mengganggu proses biologi.
G. Toksisitas
Toksisitas dari efluen terhadap kehidupan air, ternak, akuakultur, binatang dan lain sebagainya. Toksisitas air limbah dapat dilihat dengan melakukan bioassay.
H. Minyak (oil)
Biasanya dari minyak mineral (mineral oil), petroleum, kerosene, coal tar, road oils, dimana struktur kimianya hanya karbon dan hidrogen. Efeknya menutupi permukaan air sehingga dapat mengganggu proses biologi. Lemak/fat tidak mudah didekomposisi oleh bakteri. Total minyak yang dapat diproses biologi adalah ≤ 50 mg/l.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN
Penelitian yang kami lakukan bertempat di desa Bobung, kecamatan Patuk, kabupaten Gunung Kidul. Desa Bobung yang notabene adalah sebuah desa wisata memiliki potensi pada industry pembuatan topeng. Dari industry topeng tersebut, kami mengambil limbah non domestic yang diperoleh dari sisa industry sebagai objek penelitian kami.
Limbah non domestik yang diperoleh dari industry topeng berwujud padat dan cair. Limbah padatnya berupa sisa-sisa pahatan kayu, sedangkan limbah cairnya berupa sisa zat pewarna yang digunakan untuk mewarnai topeng. Zat pewarna topeng tersebut beragam jenisnya karena untuk mewarnai sebuah topeng dibutuhkan beberapa kali proses. Zat-zat yang digunakan untuk mewarnai topeng tersebut antara lain naftol, indigosol, HCl, merah B, biru B, dll.
Dalam praktiknya, limbah padat masih dapat digunakan lagi oleh masyarakat sekitar sebagai pupuk atau bahan bakar, tetapi untuk limbah cair hanya dibuang pada saluran begitu saja. Walaupun demikian limbah cair memiliki kuantitas yang lebih kecil daripada limbah padat. Oleh karena itu, penelitian dilakukan untuk mengetahui cara pengolahan limbah secara efisien.

3.2. JENIS PENELITIAN
Ditinjau dari segi kegunaannya, laporan yang kami buat termasuk laporan applied research (penelitian terapan), yaitu penelitian yang disamping untuk mengembangkan ilmu pengetahuan juga untuk tujuan praktis. Tujuannya adalah untuk memberi solusi alternatif bagi warga sekitar agar mereka lebih mudah dalam melakukan hal yang kami bahas (menjadi lebih terbantu).
Sedangkan ditinjau dari segi tujuannya, laporan ini termasuk laporan deskriptif, yaitu penelitian yang tujuannya memberikan gambaran secara cermat dan sistematis tentang suatu fenomena berdasarkan fakta-fakta yang obyektif dan empirik. Jadi, dalam penelitian ini kami mencoba untuk mengupas fakta-fakta dari data-data yang kami peroleh.
Ditinjau dari segi tempatnya, laporan kami termasuk penelitian lapangan (field). Hal ini karena kami melakukan survey secara langsung di lapangan untuk memperoleh data, sebagai sumber penelitian kami.
Ditinjau dari segi bidang kajiannya, laporan ini termasuk penelitian bidang kealaman. Hal ini karena dalam laporan ini, kami membahas hal-hal yang berkaitan dengan alam.
Kemudian ditinjau dari segi metode yang digunakan, laporan ini termasuk penelitian survey, yaitu dengan mengumpulkan informasi atau data dengan menggunakan instrumen tertentu dengan cara sensus atau sampel.
Ditinjau dari segi jenis data atau pendekatannya, laporan ini termasuk laporan kualitatif. Hal ini karena data-data yang kami peroleh bukan dalam bentuk angka. Jadi, laporan kami cendengung mengarah ke jenis penelitian kualitatif.

3.3. POPULASI DAN SAMPEL
Populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti Sedangkan sampel atau contoh merupakan sebagian populasi yang benar diamati. Sampel merupakan bagian dari populasi.
Dalam penelitian kita ini, yang termasuk dalam populasi adalah limbah yang dihasilkan dari industri pembuatan topeng dan kayu batik. Kita mengangkat limbha sebagai populasi penelitian karena saat ini begitu banyak masalah yang ditimbulkan oleh limbah yang terjadi. Apabila pembuangan limbah ini terus terjadi tanpa diolah, maka akan terjadi kerusakan bumi ini. Dari populasi tersebut, kita mengambil sampel limbah HCl, naptol, indigosol, pewarna merah B, biru B.

3.4. METODE PENGUMPULAN DATA
1. Observasi
Melakukan pengamatan dan pencatatan dengan peninjauan langsung ke daerah perancanaan
Variabel Penelitian yang dihasilkan dalam penelitian terdiri dari:
a. Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah:
1. Penggelolaan dan pemanfaatan Limbah Padat.
2. Penggalolaan dan pemanfaatan Limbah cair.
3. Penggelolaan dan pemanfaatan Limbah gas.
b. Variabel terikat
1. Kadar HCL.
2. Banyak Kayu limbah topeng.
2. Wawancara
Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka.
Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tampa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit.
Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998)
Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain :
a. Limbah apa saja yang diperoleh dari industri kerajinan topeng?
b. Bagaimana kebiasaan masyarakat menempatkan limbah industri ini?
c. Sejauh ini apa yang akan Anda lakukan dengan limbah-limbah tersebut?
d. Apa saja yang bisa dihasilkan dari pengolahan limbah tersebut?
e. Apa saja yang dapat dihasilkan dari pengolahan limbah tersebut?
f. Adakah keuntungan secara materi dari hasil pengolahan limbah tersebut? Bila ada, berapa persen dari keuntungan pertama?
g. Apakah dari limbah-limbah tersebut ada yang berbahaya?
h. Bagaimana cara Anda membuan limbah-limbah yang sudah tidak bisa didaur ulang agar tidak merusak lingkungan?
i. Sejauh ini, adakah kasus pencemaran lingkungan akibat limbah-limbah yang diperoleh dari industri? Bila ada, seperti apa peristiwanya?
j. Selama ini, adakah penyuluhan dari dinas terkait tentang pengolahan limbah? Bila iya, seberapa sering? Siapa saja yang memberikan penyuluhan itu?
k. Apa kiat-kiat yang diberikan tentang pengolahan limbah?
l. Apakah setiap pengrajin di sini melakukan pengolahan limbah dengan cara yang sama?
m. Apa saja manfaat yang Anda dapatkan dari pengolahan limbah industri? Seberapa banyak pegrajin yang melakukannya?
3. Studi literature
Dengan mempelajari buku-buku pedoman, peraturan-peraturan, arsip dan lain-lain yang berkaitan dengan system penyaluran air bersih.

3.5. METODE ANALISIS DATA
Ada beberapa teknik statistik yang dapat digunakan untuk menganalisis data. Tujuan dari analisis data adalah untuk mendapatkan informasi yang relevan yang terkandung di dalam data tersebut, dan menggunakan hasil analisis tersebut untuk memecahkan suatu masalah.
Untuk itu kami memilih metode analisis data yang berupa analisis deskriptif. Analisis deskriptif ini mempunyai tujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi suatu populasi.
Populasi dalam penelitian ini adalah limbah, oleh karena itu kami akan memberikan gambaran secara terinci mengenai limbah yang diperoleh dari industri pembuatan topeng di desa Bobung, Patuk, Gunung Kidul. Sehingga kita dapat mengetahui cara pengolahan limbah yang lebih efektif serta efisien.

BIODATA PENELITI
Nama : Amaliani Chandra Pradipta
TTL : Pacitan, 8 Oktober 1993
Alamat : Jalan Johar Nurhadi 3 Kotabaru

Nama : Dea Fiesta Jatikusuma
TTL : Sleman, 5 Februari 1994
Alamat : Sanan, RT 004 RW 014 Sendangarum, Minggir, Sleman

Nama : Livianinda Elza Aldila
TTL : Yogyakarta, 21 April 1994
Alamat : Jakal Km 20 Sawungsari Hargobinangun Pakem Sleman Yogyakarta

Nama : Puspita Wulansari
TTL : Samarinda, 22 September 1994
Alamat : Perum Bayeman Permai D18 Jl Wates KM 3

Nama : Suci Yohana Cahya Wijaya
TTL : Wonosari, 14 Mei 1994
Alamat : Yadara Blok I/16

Nama : Ishak Hilton Pujantoro Tnunay
TTL : Yogyakarta, 13 Maret 1994
Alamat : Jalan Mangga 49A Maguwoharjo Depok Sleman

Nama : Naufal Arif Prasetyo Wibowo
TTL : Yogyakarta, 24 Oktober 1994
Alamat : Jalan Jogja Solo Km 17

About ishakhiltonpt

I am an Electrical Engineer who graduated from Universitas Gadjah Mada in 2015. My research interests are formation control system, nonlinear control, path planning, robotics and UAV.
This entry was posted in Research. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s