Legend of Santa Claus

Hundreds of years back, Nicholas was born to a wealthy Christian family in Patara in around 280 AD. The place is near Myra in modern-day Turkey. He was so kind and pious that he helped anyone who came his way and soon many legends about his good deeds became popular. Later, he became the Bishop of Myra. He had inherited a large property, which he used from time to time to help the poor and the sick. He traveled anonymously in the night to ensure that all of his parishioners are well fed and happy. During one of his visits, he heard a family lamenting about their misfortunes and poverty and how they were forced to sell the three poor sisters into slavery or prostitution as their father was unable to provide a suitable dowry to them or even provide food and clothes to them.

That very night, Nicholas threw three purses of gold secretly into their home from the chimney thus, saving them from shame and distress. Later, he became more and more popular as the protector and the patron saint of children and sailors. His feast is celebrated every year on his death anniversary on 6th of December and on this day, it considered lucky day to get married or buy more ad more things. His popularity kept growing and by the Renaissance, he was the most popular European saint, especially in Holland. Even when Protestants discouraged the veneration of saints, St. Nicholas continued to enjoy his status and positive reputation and remained one with Christmas forever as Santa Claus or Father Christmas.

http://www.worldofchristmas.net/christmas-stories/legend-of-santa-claus.html

Posted in Story | Leave a comment

Legend of the Evergreen Trees

One winter, when the birds were all leaving for south and warmer areas, one little bird broke its wing on the way and was left behind. Soon frost and snow covered the forest and she was cold and hungry. So she asked the trees to help her and let her stay in its branches. However, the threes are not always kind. The birch tree was proud of being beautiful and haughtily replied to the bird’s pleas by saying that he could not possibly help him because he had to look after the birds of the forest first. The strong oak tree was reluctant because it was afraid that the bird would have to live there till spring time and would eat up some of its acorns. Even the willow tree that seemed to be gentle otherwise refused to help or even talk to the strangers.

The poor bird was in much distress and tried to fly some more but her wing was still not fit for the purpose. Seeing her struggling like this, the spruce tree asked her, why she seems so downcast. When the bird revealed her miseries, it offered her the thickest, softest and warmest branch to stay. The bird was really glad to find some help. Inspired by the kindness of spruce tree, the big and strong pine tree also volunteered to protect the spruce tree and the bird from the North Wind all through the winters. The little juniper tree also piped in to offer its berries to the bird to quench her hunger. So, the bird lived comfortably there and flew away again at springtime, when its wing healed again.

The Frost King, who kept close note of the behavior of all trees, strictly instructed the North Wind not to touch even a single leaf of the kind spruce, pine and juniper trees; while he was free to play havoc with the leaves of other trees. The North Wind especially enjoyed in plucking the shining, green leaves of the willow, oak and bird trees and leaving them bare for the winters, with nothing to protect them from snow, rain and sleet. It is for this kindness that the leaves of the spruce, the pine, and the juniper are always green and they are known as evergreen trees.

http://www.worldofchristmas.net/christmas-stories/legend-of-evergreen-trees.html

Posted in Story | Leave a comment

Simple Pendulum for Detecting Earthquake Which Can Cause Tsunami

Latar Belakang Masalah
Dewasa ini banyak sekali bencana-bencana alam yang menimpa bumi kita ini. Berbagai macam bencana tersebut terkategori sebagai bencana alam ringan, sedang, dan besar atau dahsyat. Sesuai dengan hakekat bencana alam, bencana ini tentunya berasal dari alam kita sepenuhnya. Hanya saja terdapat banyak factor yang mampu menyebabkan munculnya bencana alam itu sendiri. Bencana alam yang kita kenal seperti banjir, longsor, kebakaran, sangat mungkin disebabkan oleh banyanya kerusakan yang sudah terjadi di muka bumi ini. beberapa waktu yang lalu kita mengadapi bencana alam yang tiada habisnya sehingga mengancam keberadaan pemukiman masyarakat kita, bahkan dapat mengancam kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya.
Seperti yang telah dibahas sebelumnya, bencana alam dapat tergolong sebagai bencana alam ringan, sedang atau besar tetntunya memiliki kriteria-kriteria tertentu sehingga menimbulkan tingkatan-tingkatan bencana alam. Kriteria-kriteria tersebut dapat didefinisikan sebagai pertimbangan bahaya bencana alam yang terjadi. Bencana alam yang menimbulkan bahaya yang besar atau bencana alam yang menimbulkan bahaya yang tidak begitu besar bahkan ringan atau kecil. Kriteria lain yang mungkin adalah akibat yang ditimbulkan oleh bencana alam tersebut.
Bencana alam yang terjadi dapat menimbulkan dampak yang bermacam-macam, dalam berbagai bidang pula. Namun, tidak jarang ketika sebuah bencana alam melanda kita menimbulkan akibat yang besar dan parah ataupun ringan. Tidak jarang pula setiap bencana alam yang terjadi dapat menimbulkan akibat yang beruntun terhadap segala bidang kehidupan. Akibat kerusakan yang ditimbullkan oleh bencana alam tersebut dapat menyebabkan gangguan sistem kehidupan manusia. Berbagai bidang yang mempengaruhi kelangsungan hidup manusia yang bermutu dapat terganggu. Terganggunya salah satu komponen penunjang bidang tertentu dapat mempengaruhi keberlangsungan bidang lainnya. Kerusakan akibat bencana alam dapat menimbulkan gangguan pada sistem perekonomian warga masyarakat, belum lagi kebutuhan akan sandang dan pangan yang terganggu pula.
Kendala yang dihadapi setelah terjadinya bencana alam tentunya sangatlah tidak diinginkan. Namun, terkadang kita tidak pernah memperhatikan detail kecil yang justru menandai akan terjadinya sebuah bencana alam. Seperti banyak yang terjadi, bencana alam seperti banjir yang melanda berbagai kota di negara kita. Tak lain penyebab bencana alam tersebut salah satunya adalah kelalaian manusia terhadap kondisi lingkungan. Sehingga tidak mampu meminimalisir akibat bencana yang ditimbulkan.
Usaha-usaha untuk meminimalisir akibat bencana alam dapat dilakukan sebelum ataupun sesudah terjadinya bencana. Mencegah sebuah akibat bencana yang besar tentunya akan lebih baik. Salah satunya dengan menggunakan pendeteksi akan terjadinya bencana alam. Dengan mengetahui gejala-gejala terjadinya bencana alam tentunya dapat meminimalkan akibat bencana yang ditimbulkan. Terutama akibat bencana yang banyak menimbulkan ganguan dalam proses kehidupan sosial.
Karya ilmiah ini berusaha untuk membantu memberi peringatan awal terhadap bencana gempa bumi yang berpotensi menimbulkan tsunami. Dengan harapan dapat meminimalkan akibat bencana yang menimpa.

Rumusan Masalah
Karya ini seperti yang telah kita ketahui sebelumnya bertujuan untuk mendeteksi gempa yang berpotensi menjadi tsunami. Karya ini didasari oleh beberapa masalah yaitu :
Bagaimana caranya meminimalisir korban akibat tsunami ?
Bagaimana caranya memberi peringatan bahaya tsunami kepada masyarakat disekitar pantai?
Bagaimana caranya membuat alat peringatan adanya tsunami ?
Alat dan bahan apa saja yang di butuhkan untuk membuat alat peringatan tsunami?

Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Suatu alat dibuat karna suatu tujuan . Tujuan utama kami membuat alat ini adalah untuk memperingatkan warga atau masyarakat sekitar akan adanya bahaya tsunami. Hal ini ditujukan agar masyarakat dapat mempersiapkan diri dengan baik apabila terjadi tsunami, sehingga tidak memakan banyak korban jiwa.

Kajian Pustaka
1. Gempa Bumi
1.1. Pengertian Gempa Bumi
Gempa bumi adalah getaran atau guncangan yang terjadi di permukaan bumi. Gempa bumi bisa disebabkan oleh pergerakan kerak bumi (lempeng bumi). Kata gempa bumi juga digunakan untuk menunjukkan daerah asal terjadinya kejadian gempa bumi tersebut. Bumi kita walaupun padat, selalu bergerak dan gempa bumi terjadi apabila tekanan yang terjadi karena pergerakan itu sudah terlalu besar untuk dapat ditahan.
1.2 . Gempa bumi diklasifikasikan menjadi dua tipe berdasarkan penyebab terjadinya, yaitu :
1.2.1. Gempa bumi vulkanik disebabkan oleh karena adanya aktivitas gunung berapi akibat magma yang biasa terjadi sebelum gunung api meletus. Apabila keaktifannya semakin tinggi maka akan menyebabkan timbulnya ledakan yang juga akan menimbulkan terjadinya gempa bumi. Gempa bumi tersebut hanya terasa disekitar gunung berapi tersebut.
1.2.2 Gempa bumi tektonik disebabkan oleh adanya aktivitas tektonik, yaitu pergeseran lempeng-lempeng terktonik secara mendadak yang mempunyai kekuatan dari yang sangat kecil hingga yang sangat besar. Gempa bumi ini banyak menimbulkan kerusakan atau bencana alam di bumi, getaran gempa bumi yang kuat mampu menjalar ke seluruh bagian bumi. Gempa bumi tektonik disebabkan oelh pelepasan (tenaga) yang terjadi karena pergeseran lempengan plat tektonik seperti layaknya gelang karet ditarik dan dilepaskan tiba-tiba. Tenaga yang dihasilkan oleh tekanan antara batuan dikenal sebagai kecacatan tektonik. Teori dari lempeng tektonik menjelaskann bahwa bumi terdiri dari beberapa lapisan batuan, sebagian besar arean dari lapisan kerak itu akan hanyut dan mengapung di lapisan seperti salju. Lapisan tersebut bergerak perlahan sehingga berpecah-pecah dan bertabrakan satu sama lainnya. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya gempa bumi tektonik.
1.3. Magnitudo Gempa Bumi
Magnitudo gempa adalah sebuah besaran yang menyatakan besarnya energi seismik yang dipancarkan oleh sumber gempa. Besaran ini akan berharga sma, meskipun dihitung dari tempat yang berbeda. Skala yang kerap digunakan untuk menyatakan magnitudo gempa ini adalah Skala Richter (Richter Scale). Secara umum, magnitudo dapat dihitung menggunakan formula berikut:

dengan M adalah magnitudo, a adalah amplitudo gerakan tanah (dalam mikrometer), T adalah periode gelombang, Δ adalah jarak pusat gempa atau episenter, h adalah kedalaman gempa, CS, dan CR adalah faktor koreksi yang bergantung pada kondisi lokal & regional daerahnya.
Selain Skala Richter diata, ada beberapa definisi magnitudo yang dikenal dalam kajian gempa bumi adalah MS yang diperkenalkan oleh Guttenberg menggunakan fase gelombang permukaan gelombang Rayleigh, mb (body waves magnitudo) diukur berdasar amplitudo gelombang badan, baik P maupun S.
Magnitudo lokal ML diperkenalkan oleh Richter untuk mengukur magnitudo gempa-gempa lokal, khususnya di California Selatan. Nilai amplitudo yang digunakan untuk menghitung magnitudo lokal adalah amplitudo maximum gerakan tanah (dalam mikron) yang tercatat oleh seismograph torsi (torsion seismograph) Wood-Anderson, yang mempunyai periode natural = 0,8 sekon, magnifikasi (perbesaran) = 2800, dan faktor redaman = 0,8. Jadi formula untuk menghitung magnitudo lokal tidak dapat diterapkan di luar California dan data amplitudo yang dipakai harus yang tercatat oleh jenis seismograph di atas.
Magnitudo gempa yang diperoleh berdasar amplitudo gelombang badan (P atau S) disimbulkan dengan mb. Dalam prakteknya (di USA), amplitudo yang dipakai adalah amplitudo gerakan tanah maksimum dalam mikron yang diukur pada 3 gelombang yang pertama dari gelombang P (seismogram periode pendek, komponen vertikal), dan periodenya adalah periode gelombang yang mempunyai amplitudo maksimum tersebut. Sudah tentu rumus yang dipakai untuk menghitung mb ini dapat digunakan disemua tempat (universal). Tapi perlu dicatat bahwa faktor koreksi untuk setiap tempat (stasiun gempa) akan berbeda satu sama lain.
Magnitudo yang diukur berdasar amplitudo gelombang permukaan disimbulkan dengan MS. secara praktis (di USA) amplitudo gerakan tanah yang dipakai adalah amplitudo maksimum gelombang permukaan, yaitu gelombang Rayleigh (dalam mikron, seismogram periode panjang, komponen vertikal, periode 20 ± 3 sekon) dan periodenya diukur pada gelombang dengan amplitudo maksimum tersebut.
Dalam menentukan magnitudo, tidak ada keseragaman materi yang dipakai kecuali rumus umumnya, yaitu persamaan diatas tadi. Untuk menentukan mb misalnya, orang dapat memakai data amplitudo gelombang badan (P dan S) dari sebarang fase seperti P, S, PP, SS, pP, sS (yang jelas dalam seismogram). Seismogram yang dipakaipun dapat dipilih dari komponen vertikal maupun horisontal (asal konsisten). Demikian juga untuk penentuan MS. Oleh karena itu, kiranya dapat dimengerti bahwa magnitudo yang ditentukan oleh institusi yang berbeda akan bervariasi, walaupun mestinya tidak boleh terlalu besar.
Namun demikian, tampaknya ada hubungan langsung antara mb dan MS, yang secara empiris ditulis sebagai:
mb = 0.56MS + 2,9
1.4. Energi Gempa Bumi
Kekuatan gempa disumbernya dapat juga diukur dari energi total yang dilepaskan oleh gempa tersebut. Energi yang dilepaskan oleh gempa biasanya dihitung dengan mengintegralkan energi gelombang sepanjang kereta gelombang (wave train) yang dipelajari (misal gelombang badan) dan seluruh luasan yang dilewati gelombang (bola untuk gelombang
badan, silinder untuk gelombang permukaan), yang berarti mengintegralkan energi keseluruh ruang dan waktu. Berdasar perhitungan energi dan magnitudo yang pernah dilakukan, ternyata antara magnitudo dan energi mempunyai relasi yang sederhana, yaitu:
Log E = 4,78 + 2,57mb
dengan satuan energi adalah dyne.cm atau erg. Berdasar persamaan tersebut, kenaikan magnitudo gempa sebesar 1 skala richter akan berkaitan dengan kenaikan amplitudo yang dirasakan disuatu tempat sebesar 10 kali, dan kenaikan energi sebesar 25 sampai 30 kali. Untuk mendapatkan gambaran seberapa besar energi yang dilepaskan pada suatu kejadian gempa, kita dapat menggunakan persamaan di atas untuk menghitung energi gempa yang mempunyai magnitudo mb = 6.8. Perhitungan energi ini akan menghasilkan angka sebesar 1022 erg = 1015 joule = 278 juta kWh. Angka ini mendekati energi listrik yang dihasilkan oleh generator berkekuatan 32 mega watt selama 1 tahun. Jadi untuk gempa dengan magnitudo 7.8, energinya menjadi kurang lebih 30 kali lipat dari itu (30 x 278 juta kWh).
Berdasarkan hasil analisis terhadap data gempa bumi yang tercatat selama 100 tahun pengamatan terakhir, dapat disusun peta zona gempa yang didalamnya sudah tercakup frekuensi kejadian gempa dan skala besaran gempa sesuai dengan zona kegempaannya.
Peta Zona gempa adalah peta yang menggambarkan besarnya koefisien gempa pada suatu daerah yang sesuai dengan besaran kegempaannya.
Untuk keperluan perencanaan dan perancangan infrastruktur di Indonesia, telah disusun Peta Zona Gempa dengan menerapkan fungsi rayapan gelombang gempa Fukushima dan Tanaka (1990):

log PHA= 0,41 ×MS – log (r+0,030 x 〖10〗^(0.41×MS) ) – 0,0033r + 1,28
r=√(d^2+h^2 )
dengan,
PHA = percepatan gempa horisontal maksimum (gals),
MS = magnitude gempa
d = jarak episentrum (km), misalkan d ≤ 40 km
h = kedalaman gempa, diambil 30 km,
r = jarak hiposentrum terdekat.
1 gals = 0,01 m/s2

2. Tsunami
2.1 Pengertian Tsunami
Tsunami adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami.
2.2 Penyebab terjadinya Tsunami
Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Dalam rekaman sejarah beberapa tsunami diakibatkan oleh gunung meletus, misalnya ketika meletusnya Gunung Krakatau.
Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang berada di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.
Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.
Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua.
Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter.
Gempa yang menyebabkan tsunami
Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 – 30 km)
Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter
Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun

Metodologi
Untuk dapat melaksanakan penelitian dengan baik, tentunya diperlukan data-data yang akurat, baik dari lapangan pengamatan ataupun dari sumber-sumber lain yang sudah tersedia.
Pada penelitian ini, kita lebih banyak menggunakan metode percobaan sebagai dasar dalam membuat alat ini. Percobaan ini didasari pada teori gerak harmonik sederhana, lebih jelasnya akan dibahas lebih rinci pada pembahasan dibawah ini.

log⁡〖PHA=0,41.Ms-log⁡〖(r+0,030×〖10〗^(0,41.Ms) 〗 〗)-0,0033r+1,28
=0,41.Ms-log⁡〖(50+0,030 × 〖10〗^0,41.6– 0,0033r + 1,28〗)
=2,46-log⁡〖(50+8,625)- 0,0033.50+1,28〗
=2,46-log⁡58,652-0,165+1,28
=2,46-1,768-0,165+1,28
log⁡〖PHA=1,807〗
PHA = 64,12 gals
=0,6412 m.s-2

Diketahui :
Ms = 6 SR
r=√(d^2+h^2 )
r=√(〖40〗^2+〖30〗^2 )
r=50 km

Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan yang digunakan pada proposal penelitian ini, yaitu :
Latar Belakang
Pada Bab ini berisi tentang penjelasan-penjelasan alasan akademik memilih permasalahan tertentu sehingga dipandang menarik dan penting untuk diteliti. Pada Bab ini dijabarkan beberapa pemikiran tentang pemilihan dari topik pemabahasan kita kali ini.
Rumusan Masalah
Pada Bab ini berisi tentang pertanyaan-pertanyaan sehubungan dengan topik permasalahan yang hendak dicari jawabannya dengan percobaan-percobaan yang akan dilakukan.
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Pada Bab ini berisi penjelasan-penjelasan yang lebih spesifik mengenai tujuan yang akan dicapai dan manfaat atau kegunaan bagi ilmu pengetahuan.
Kajian Pustaka
Pada Bab ini berisi uraian-uraian tentang tinjauan secara kritis hasil penelitian terdahulu tentang persoalan yang akan dikaji dan ditulis. Peneliti mengemukakan dan menunjukan dengan pasti bahwa masalah yang akan dibahas belum pernah diteliti orang lain sebelumnya. Tujuan kajian pustaka adalah untuk menunjukan bahwa penelitian yang akan dilakukan itu merupakan sesuatu yang baru.
Metodologi
Pada Bab ini penjelasan mengenai metode pengumpulan data, analisa data yang akan digunakan dalam penelitian.
Sistematika Pembahasan
Pada Bab ini berisi alur penulisan antara satu bagian dengan bagian yang lainnya.
Jadwal Penelitian
Pada Bab ini berisi tentang urutan kegiatan penelitian yang akan diakukan dari awal hingga selesai seluruhnya.
Daftar Pustaka
Pada Bab ini berisi tentang sumber-sumber mana saja yang digunakan dalam mencari pembahasan atau untuk menyelesaiakan topik permasalahan.
Identitas Peneliti
Pada Bab ini berisi tentang identitas para peneliti untuk memperjelas kepemilikan penelitian.

Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Tsunami

http://dvdpic.wordpress.com/2009/10/13/definisi-skala-richter-pada-gempa-bumi/

http://www.gurumuda.com

Identitas / Biodata Peneliti
Nama : Putu Widyarani Kusumadewi
NIS : 12055
Tempat Tanggal Lahir : Sleman, 29 Oktober 1994
Alamat : Jalan Tluki I / 163 Perumnas Condongcatur, Depok, Sleman, Yogyakarta
No. Telepon : 085640415932

Nama : Renaning Rahmantya Wahyudi
NIS : 12056
Tempat Tanggal Lahir : Yogyakarta, 16 Februari 1995
Alamat : Tegalkenongo Tirtonirmolo No.65 RT02 RW08 Kasihan Bantul
No. Telepon : 085729346108

Nama : Ade Fadil Fajargumelar
NIS : 12060
Tempat Tanggal Lahir : Yogyakarta, 5 November 1993
Alamat : Pilahan Kidul kg I No.869, Rejowinangun,
Kotagede, Yogyakarta
No. Telepon : 085727561664

Nama : Ishak Hilton Pujantoro Tnunay
NIS : 12063
Tempat Tanggal Lahir : Yogyakarta, 13 Maret 1994
Alamat : Jalan Mangga No.49 A Maguwoharjo
No. Telepon : 085743455660

Posted in Research | Leave a comment

Non-Domestic Waste Processing of Mask Industry in Gunung Kidul Regency

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG
Salah satu diantara masalah di dunia yang banyak mendapat perhatian adalah pencemaran lingkungan. Meningkatnya taraf hidup masyarakat di negara berkembag menimbulkan semakin banyak pula variasi zat pencemar yang dihasilkan dan bila dibiarkan dalam tanah atau dibuang ke air akan mencemari dan merubah sumber daya yang ada. Kehadiran limbah non domestik dapat mempengaruhi kesejahteraan hidup masyarakat dan juga mengganggu kelestarian lingkungan hidup, sehingga perlu adanya penanganan dan pengelolaan.
Limbah terdiri dari limbah domestic dan non domestic. Air limbah domestik berasal dari rumah tangga, pemukiman, pasar, lembaga/kantor, rekreasi, dll. Sedangkan limbah non domestik berasal dari limbah sisa produksi (industri). Sesuai dengan kondisi dan kebiasaan masyarakat memungkinkan perlu ada penanganan air limbah non domestik. (Sugiharto, 1987).
Pengelolaan limbah diartikan sebagai upaya pencegahan terhadap polusi akibat perilaku buangan padat, cair dan gas agar tidak mencemari lingkungan yaitu tanah, udara dan air. Dengan kata lain, pengelolaan limbah merupakan suatu usaha untuk mengolah limbah dengan tujuan untuk meminimalkan beban pencemaran ini dapat diolah dan memenuhi standar baku mutu yang telah ditentukan. (Tjokrokusumo, 1998)
Saat ini Dusun Bubung, Gunungkidul belum memiliki sarana pengolahan limbah non domestik. Limbah padat yang dihasilkan hanya dibuang ditempat-tempat tertentu yang kemungkinannya sangat besar untuk mencemari lingkungan. Limbah cair yang ada hanya dibuang ke tanah atau lantai begitu saja. Limbah cair yang dihasilkan memang hanya sedikit tetapi apabila tidak diperhatikan dampaknya akan sangat berbahaya.
Dalam perencanaan pengolahan limbah non domestik pembuatan topeng di Dusun Bubung ini, direncanakan dengan memanfaatkan sarana dan prasarana yang ada, diharapkan hasil buangan sesuai dengan standar baku mutu yang telah ditentukan.

1.2. RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan pada latar belakang yang telah dipaparkan sebelumnya, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut :
1. Apakah ada limbah yang berdampak langsung dan sangat berbahaya pada lingkungan?
2. Sejauh manakah penanganan limbah saat ini dilakukan?
3. Bagaimana cara pengelolaan limbah pembuatan topeng?
4. Apakah potensi yang bisa dikembangkan dari limbah pembuatan topeng?
5. Apa yang bisa dihasilkan dari pengolahan limbah pembuatan topeng?

1.3. TUJUAN PENELITIAN
1. Mengetahui limbah non domestik yang dihasilkan dari pembuatan topeng di daerah Gunung Kidul.
2. Mengetahui cara pengolahan limbah non domestik pembuatan topeng dengan tepat.
3. Mengetahui dampak yang ditimbulkan oleh limbah non domestik pada lingkungan daerah industri topeng di Gunung Kidul.
4. Mencegah pencemaran lingkungan yang diakibatkan oleh pengolahan limbah yang tidak tepat.

1.4. MANFAAT PENELITIAN
1. Penelitian ini berkaitan erat dengan mata pelajaran Biologi dan Kimia tentang pengolahan limbah untuk mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Sehingga dengan adanya penelitian ini diharapkan kita akan lebih memahami tentang pencegahan pencemaran lingkungan.
2. Penelitian pada industri pembuatan topeng di daerah Gunung Kidul ini sebagai objeknya sehingga diharapkan para pengrajin topeng nantinya dapat mengolah limbah sisa industri dengan cara yang tepat.

1.5. METODOLOGI PENELITIAN
Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian terletak di dusun Bobung, Patuk, Gunungkidul.
Waktu Penelitian
Waktu penelitian dilaksanakan pada Hari Selasa dan Rabu tanggal 13-14 April 2010.
Obyek Penelitian
Dalam penelitian ini materi yang akan diteliti adalah limbah dari industri topeng di daerah Gunung Kidul.
Teknik Pengumpulan Data
1) Wawancara
Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka.
Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tampa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit.
Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998)
Kerlinger (dalam Hasan 2000) menyebutkan 3 hal yang menjadi kekuatan metode wawancara :
a. Mampu mendeteksi kadar pengertian subjek terhadap pertanyaan yang diajukan. Jika mereka tidak mengerti bisa diantisipasi oleh interviewer dengan memberikan penjelasan.
b. Fleksibel, pelaksanaanya dapat disesuaikan dengan masing-masing individu.
c. Menjadi satu-satunya hal yang dapat dilakukan disaat tehnik lain sudah tidak dapat dilakukan.
Menurut Yin (2003) disamping kekuatan, metode wawancara juga memiliki kelemahan, yaitu :
a. Retan terhadap bias yang ditimbulkan oleh kontruksi pertanyaan yang penyusunanya kurang baik.
b. Rentan terhadap terhadap bias yang ditimbulkan oleh respon yang kurang sesuai.
c. Probling yang kurang baik menyebabkan hasil penelitian menjadi kurang akurat.
d. Ada kemungkinan subjek hanya memberikan jawaban yang ingin didengar oleh interviwer.

Berdasarkan metode wawancara di atas, maka kami menyusun beberapa pertanyaan yang bersangkutan dengan pengolahan limbah non domestik yang akan kami ajukan ke narasumber.
Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain :
a. Limbah apa saja yang diperoleh dari industri kerajinan topeng?
b. Bagaimana kebiasaan masyarakat menempatkan limbah industri ini?
c. Sejauh ini apa yang akan Anda lakukan dengan limbah-limbah tersebut?
d. Apa saja yang bisa dihasilkan dari pengolahan limbah tersebut?
e. Apa saja yang dapat dihasilkan dari pengolahan limbah tersebut?
f. Adakah keuntungan secara materi dari hasil pengolahan limbah tersebut? Bila ada, berapa persen dari keuntungan pertama?
g. Apakah dari limbah-limbah tersebut ada yang berbahaya?
h. Bagaimana cara Anda membuan limbah-limbah yang sudah tidak bisa didaur ulang agar tidak merusak lingkungan?
i. Sejauh ini, adakah kasus pencemaran lingkungan akibat limbah-limbah yang diperoleh dari industri? Bila ada, seperti apa peristiwanya?
j. Selama ini, adakah penyuluhan dari dinas terkait tentang pengolahan limbah? Bila iya, seberapa sering? Siapa saja yang memberikan penyuluhan itu?
k. Apa kiat-kiat yang diberikan tentang pengolahan limbah?
l. Apakah setiap pengrajin di sini melakukan pengolahan limbah dengan cara yang sama?
m. Apa saja manfaat yang Anda dapatkan dari pengolahan limbah industri? Seberapa banyak pegrajin yang melakukannya?

Sedangkan narasumber yang akan diwawancarai antara lain :
a. Pemilik industri kerajinan topeng
b. Pengrajin topeng
c. Warga masyarakat sekitar

2) Observasi
Disamping wawancara, penelitian ini juga melakukan metode observasi. Menurut Nawawi & Martini (1991) observasi adalah pengamatan dan pencatatan secara sistimatik terhadap unsur-unsur yang tampak dalam suatu gejala atau gejala-gejala dalam objek penelitian.
Dalam penelitian ini observasi dibutuhkan untuk dapat memehami proses terjadinya wawancara dan hasil wawancara dapat dipahami dalam konteksnya. Observasi yang akan dilakukan adalah observasi terhadap subjek, perilaku subjek selama wawancara, interaksi subjek dengan peneliti dan hal-hal yang dianggap relevan sehingga dapat memberikan data tambahan terhadap hasil wawancara.
Menurut Patton (Poerwandari, 1998) tujuan observasi adalah mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian di lihat dari perpektif mereka yang terlihat dalam kejadian yang diamati tersebut.
Menurut Patton (Poerwandari, 1998) salah satu hal yang penting, namun sering dilupakan dalam observasi adalah mengamati hal yang tidak terjadi. Dengan demikian Patton menyatakan bahwa hasil observasi menjadi data penting karena :
a. Peneliti akan mendapatkan pemahaman lebih baik tentang konteks dalam hal yang diteliti akan atau terjadi.
b. Observasi memungkinkan peneliti untuk bersikap terbuka, berorientasi pada penemuan dari pada pembuktiaan dan mempertahankan pilihan untuk mendekati masalah secara induktif.
c. Observasi memungkinkan peneliti melihat hal-hal yang oleh subjek penelitian sendiri kurang disadari.
d. Observasi memungkinkan peneliti memperoleh data tentang hal-hal yang karena berbagai sebab tidak diungkapkan oleh subjek penelitian secara terbuka dalam wawancara.
e. Observasi memungkinkan peneliti merefleksikan dan bersikap introspektif terhadap penelitian yang dilakukan. Impresi dan perasan pengamatan akan menjadi bagian dari data yang pada giliranya dapat dimanfaatkan untuk memahami fenomena yang diteliti.
Alat Bantu pengumpulan Data
Menurut Poerwandari (1998) penulis sangat berperan dalam seluruh proses penelitian, mulai dari memilih topik, mendeteksi topik tersebut, mengumpulkan data, hingga analisis, menginterprestasikan dan menyimpulkan hasil penelitian.
Dalam mengumpulkan data-data penulis membutuhkan alat bantu (instrumen penelitian). Dalam penelitian ini peneliti menggunakan 3 alat bantu, yaitu :
1) Pedoman wawancara
Pedoman wawancara digunakan agar wawancara yang dilakukan tidak menyimpang dari tujuan penelitian. Pedoman ini disusun tidak hanya berdasarkan tujuan penelitian, tetapi juga berdasarkan teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti.

2) Pedoman Observasi
Pedoman observasi digunakan agar peneliti dapat melakukan pengamatan sesuai dengan tujuan penelitian. Pedoman observasi disusun berdasrkan hasil observasi terhadap perilaku subjek selama wawancara dan observasi terhadap lingkungan atau setting wawancara, serta pengaruhnya terhadap perilaku subjek dan informasi yang muncul pada saat berlangsungnya wawancara.
3) Alat Perekam
Alat perekam berguna sebagai alat Bantu pada saat wawancara, agar peneliti dapat berkonsentrasi pada proses pengambilan data tampa harus berhenti untuk mencatat jawaban-jawaban dari subjek. Dalam pengumpulan data, alat perekam baru dapat dipergunakan setelah mendapat ijin dari subjek untuk mempergunakan alat tersebut pada saat wawancara berlangsung.
1.6. SISTEMATIKA PEMBAHASAN
Kebanyakan orang mengira kalau limbah tidak ada manfaatnya lagi. Tapi berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan, ternyata tidak sedikit limbah yang masih bisa dimanfaatkan. Salah satu pemanfaatannya adalah untuk hasil kesenian. Jika limbah dibiarkan begitu saja tanpa ada penanganan yang tepat, kemungkinan limbah tersebut dapat merugikan bagi lingkungan kita. Tentu saja ada sebagian limbah yang tidak dapat diuraikan oleh mikroorganisme, sehingga mengganggu kelangsungan hidup makhluk hidup yang terdapat di lingkungan tersebut.
Apabila limbah ditempatkan pada tempat yang kurang tepat, dapat menimbulkan terjadinya bencana alam, seperti banjir. Banjir itu sendiri disebabkan oleh penumpukan limbah yang menghalangi aliran sungai. Masih banyak lagi akibat dari pengolahan limbah yang kurang tepat. Oleh karena itulah, kami mengangkat masalah ini sebagai hal yang akan kami bahas.
Pembuatan laporan ini kami mulai dengan menentukan topik yang akan kami bahas. Setelah memperoleh sebuah topik, kami buat topik tersebut menjadi lebih spesifik dengan penulisan sebuah judul. Judul yang telah mencerminkan dan mencakup seluruh isi laporan kami. Masalah yang kami angkat adalah pengolahan limbah industri pembuatan topeng. Tentu kami mamilih judul tersebut tidak asal-asalan. Tetapi ada latar belakangnya. Latar belakangnya adalah kami ingin mengetahui bagaimana tindakan warga sekitar terhadap limbah hasil pembuatan topeng tersebut.
Dari pertanyaan-pertanyaan yang telah kami buat, munculah ide untuk membuat judul tersebut. Sedangkan tujuannya adalah kami ingin membuat limbah-limbah tersebut menjadi lebih bermanfaat untuk warga sekitar. Sehingga tidak menumpuk sia-sia. Kemudian metodologi pengumpulan data yang kami gunakan adalah wawancara dan obsevasi. Kami akan mengajukan beberapa pertanyaan pada warga sekitar. Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentunya diharapkan dapat membantu kami untuk lebih mendukung pernyataan kami. Selain itu, kami membuat perencanaan jadwal penelitian. Yang terakhir, kami mencantumkan daftar pustaka, yang berisi sumber perolehan data kami. Dan tidak lupa kami membuat biodata kami, yang perperan sebagai peneliti.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1. Limbah
Limbah didefinisikan sebagai sisa atau buangan dari suatu usaha dan/atau kegiatan manusia. Limbah adalah bahan buangan tidak terpakai yang berdampak negatif terhadap masyarakat jika tidak dikelola dengan baik.
A. Kualitas suatu limbah dapat dinilai dari
a. Kondisi fisiknya yaitu warna, bau, zat padat yang terkandung di dalamnya, dll.
b. Kandungan kimiawi : zat organik (karbohidrat, lemak, minyak, pertisida, phenol, protein, dll), zat anorganik (alkalinitas, klorida, logam berat, nitrogen, fosfor, pH, sulfat, sulfur, dll), gas (hidrogen sulfida, metana, dll)
B. Limbah utama industri kayu:
a. Potongan kayu dan serbuk gergaji sebagai bahan dasar pembuatan perabot kayu.
Serbuk gergaji dan serpihan kayu dari proses produksi saat ini pada umumnya dimanfaatkan oleh pabrik sebagai bahan tambahan untuk membuat polywood, MDF (medium Density Fiber board) dan lembaran lain. Pada perusahaan dengan skala kecil dan lokasi yang jauh dari pabrik pembuat chipboard memanfaatkan limbah ini sebagai bahan tambahan pembakaran boiler di Kiln Dry. Sebagian pula dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai bahan bakar untuk industri yang lebih kecil seperti batu bata, kermaik atau dapur rumah tangga.
b. Limbah bahan finishing beserta peralatan bantu lainnya
Ini limbah terbanyak kedua setelah kayu dan pada kenyataannya (di Indonesia) belum begitu banyak perusahaan yang menyadari dan memahami betul tentang tata cara penanganan limbah tersebut. Beberapa masih melakukan pembuangan secara tradisional ke sungai dan ke dalam tempat pembuangan tertentu di dalam area perusahaan tanpa mempertimbangkan dampak lingkungannya. Bahkan ada beberapa perusahaan yang ‘menjual’ thinner bekas kepada penduduk yang tinggal di sekitar pabrik dan selanjutnya diproses untuk keperluan lain yang kurang jelas.
Ada sebuah organisasi di bawah pengawasan pemerintah yang bertanggung jawab untuk mengelola limbah kimia tersebut. PT. PPLI (Prasadha Pamunah Limbah Industri) adalah perusahaan pertama di Indonesia yang mengelola limbah B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun).
c. Limbah kimia sekunder sebagai hasil dari alat bantu dari sebuah industri kayu
Contoh dari limbah ini antara lain : accu dari mesin forklift, oli/pelumas bekas, lampu bekas, tinta dan lain-lain. Limbah ini belum begitu besar volumenya akan tetapi masih belum terkoordinasi dengan baik. Kebanyakan dari sejumlah industri tidak benar-benar ‘membuang’ limbah ini keluar dari pabrik. Kadang – kadang hanya disimpan di sebuah area engineer atau gudang barang bekas dan ditumpuk bersama – sama dengan peralatan bekas yang lain. Mereka hampir tidak tahu bagaimana solusi terbaik untuk melenyapkan limbah tersebut.

d. Bahan pembantu lain
Bahan-bahannya antara lain : seperti kardus, plastik pembungkus, kertas amplas bekas, kain bekas untuk proses finishing, pisau bekas dari mesin serut dan lainnya.

2.2. Pencemaran Lingkungan
Berdasarkan UU No.23 tahun 1997 pasal 1 ayat 1 tentang pengelolaan lingkungan hidup yang dimaksud dengan lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya keadaan, dan makhluk hidup , termasuk manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan mausia serta makhluk hidup lainnya.
Definisi pencemaran lingkungan menurut UU No. 23 tahun 1997 pasal 1 ayat 12 adalah masuknya atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi dan/atau komponen lain kedalam lingkungan hidup oleh kegiatan manusia sehingga kualitasnya menurun sampai pada tingkat tertentu yang menyebabkan lingkungan hidup tidak dapat berfungsi sesuai dengan baik atau maksimal.
2.3. Pengolahan Limbah
Teknologi pengolahan air limbah adalah kunci dalam memelihara kelestarian lingkungan. Apapun macam teknologi pengolahan air limbah domestik maupun industri yang dibangun harus dapat dioperasikan dan dipelihara oleh masyarakat setempat. Jadi teknologi pengolahan yang dipilih harus sesuai dengan kemampuan teknologi masyarakat yang bersangkutan.
Berbagai teknik pengolahan air buangan untuk menyisihkan bahan polutannya telah dicoba dan dikembangkan selama ini. Teknik-teknik pengolahan air buangan yang telah dikembangkan tersebut secara umum terbagi menjadi 3 metode pengolahan:
a. pengolahan secara fisika
b. pengolahan secara kimia
c. pengolahan secara biologi
Untuk suatu jenis air buangan tertentu, ketiga metode pengolahan tersebut dapat diaplikasikan secara sendiri-sendiri atau secara kombinasi.
2.4. Cara Mengukur Limbah
A. pH (tingkat keasaman)
Tingkat keasaman yang dihitung dari skala pH untuk menghitung ion hydrogen yang ada.
Pada keadaan seimbang ± 10-7 molar konsentrasi (H+) dan (OH-) bereaksi membentuk H2O. Banyak reaksi berjalannya tergantung dari pH dan biasanya aktivitas biologi berjalan pada pH 6-8 merupakan indicator toksisitas akibat kelebihan keasaman atau sebagai indikator tingkat korosifitas dari proses efluen. Tetapi pH tidak menunjukkan kuantitas keasaman suatu larutan.
B. Alkalinitas
Alkalinitas pada limbah ditunjukkan karena kehadiran bikarbonat (HCO3), karbonat (CO3) atau hydroxide (OH-). Konsentrasi alkalinitas pada limbah penting dalam hal proses kimia yang akan dilakukan pada limbah. Alkalinitas diperoleh dari bahan inorganik (sulfuric acid, nitric acid) dan juga organik (sodium salt, potassium salt dan lain sebagainya). Alkalinitas ditunjukkan dalam mg/l CaCO3 yang menunjukkan besar konsumsi asam (acid cosuming ability) yang dilakukan dengan titrasi oleh asam standar.
C. Keasaman
Karena adanya ion CO2 atau H2CO3 (hasil reaksi CO2 dengan air). Diukur dalam bentuk jumlah CaCO3 yang digunakan untuk menetralisasi carbonic acid. Sumber keasaman bisa berasal dari organik dan inorganik.
D. Warna dan kekeruhan
Adalah karakteristik fisik yang merupakan konsentrasi partikel terlarut (solvable) atau tersuspensi dalam limbah. Pada industri warna dan kekeruhan akan menyerap sinar (panjang gelombang visible light) yang menentukan warna cairan tersebut, sedangkan kekeruhan akibat terpendarnya (scattering) dari cahaya yang bertabrakan (incident light) oleh kolodial atau material tersuspensi.
E. Organik Material
Untuk memperkirakan potensial pencemaran dari materi organik. Dapat dilakukan dengan cara BOD, COD ataupun TOC.
F. Temperatur
Polutan termal merupakan problem serius pada industri migas. Bisa memberikan dampak negatif pada badan air penerima serta mengganggu proses biologi.
G. Toksisitas
Toksisitas dari efluen terhadap kehidupan air, ternak, akuakultur, binatang dan lain sebagainya. Toksisitas air limbah dapat dilihat dengan melakukan bioassay.
H. Minyak (oil)
Biasanya dari minyak mineral (mineral oil), petroleum, kerosene, coal tar, road oils, dimana struktur kimianya hanya karbon dan hidrogen. Efeknya menutupi permukaan air sehingga dapat mengganggu proses biologi. Lemak/fat tidak mudah didekomposisi oleh bakteri. Total minyak yang dapat diproses biologi adalah ≤ 50 mg/l.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. GAMBARAN UMUM OBYEK PENELITIAN
Penelitian yang kami lakukan bertempat di desa Bobung, kecamatan Patuk, kabupaten Gunung Kidul. Desa Bobung yang notabene adalah sebuah desa wisata memiliki potensi pada industry pembuatan topeng. Dari industry topeng tersebut, kami mengambil limbah non domestic yang diperoleh dari sisa industry sebagai objek penelitian kami.
Limbah non domestik yang diperoleh dari industry topeng berwujud padat dan cair. Limbah padatnya berupa sisa-sisa pahatan kayu, sedangkan limbah cairnya berupa sisa zat pewarna yang digunakan untuk mewarnai topeng. Zat pewarna topeng tersebut beragam jenisnya karena untuk mewarnai sebuah topeng dibutuhkan beberapa kali proses. Zat-zat yang digunakan untuk mewarnai topeng tersebut antara lain naftol, indigosol, HCl, merah B, biru B, dll.
Dalam praktiknya, limbah padat masih dapat digunakan lagi oleh masyarakat sekitar sebagai pupuk atau bahan bakar, tetapi untuk limbah cair hanya dibuang pada saluran begitu saja. Walaupun demikian limbah cair memiliki kuantitas yang lebih kecil daripada limbah padat. Oleh karena itu, penelitian dilakukan untuk mengetahui cara pengolahan limbah secara efisien.

3.2. JENIS PENELITIAN
Ditinjau dari segi kegunaannya, laporan yang kami buat termasuk laporan applied research (penelitian terapan), yaitu penelitian yang disamping untuk mengembangkan ilmu pengetahuan juga untuk tujuan praktis. Tujuannya adalah untuk memberi solusi alternatif bagi warga sekitar agar mereka lebih mudah dalam melakukan hal yang kami bahas (menjadi lebih terbantu).
Sedangkan ditinjau dari segi tujuannya, laporan ini termasuk laporan deskriptif, yaitu penelitian yang tujuannya memberikan gambaran secara cermat dan sistematis tentang suatu fenomena berdasarkan fakta-fakta yang obyektif dan empirik. Jadi, dalam penelitian ini kami mencoba untuk mengupas fakta-fakta dari data-data yang kami peroleh.
Ditinjau dari segi tempatnya, laporan kami termasuk penelitian lapangan (field). Hal ini karena kami melakukan survey secara langsung di lapangan untuk memperoleh data, sebagai sumber penelitian kami.
Ditinjau dari segi bidang kajiannya, laporan ini termasuk penelitian bidang kealaman. Hal ini karena dalam laporan ini, kami membahas hal-hal yang berkaitan dengan alam.
Kemudian ditinjau dari segi metode yang digunakan, laporan ini termasuk penelitian survey, yaitu dengan mengumpulkan informasi atau data dengan menggunakan instrumen tertentu dengan cara sensus atau sampel.
Ditinjau dari segi jenis data atau pendekatannya, laporan ini termasuk laporan kualitatif. Hal ini karena data-data yang kami peroleh bukan dalam bentuk angka. Jadi, laporan kami cendengung mengarah ke jenis penelitian kualitatif.

3.3. POPULASI DAN SAMPEL
Populasi adalah keseluruhan objek yang diteliti Sedangkan sampel atau contoh merupakan sebagian populasi yang benar diamati. Sampel merupakan bagian dari populasi.
Dalam penelitian kita ini, yang termasuk dalam populasi adalah limbah yang dihasilkan dari industri pembuatan topeng dan kayu batik. Kita mengangkat limbha sebagai populasi penelitian karena saat ini begitu banyak masalah yang ditimbulkan oleh limbah yang terjadi. Apabila pembuangan limbah ini terus terjadi tanpa diolah, maka akan terjadi kerusakan bumi ini. Dari populasi tersebut, kita mengambil sampel limbah HCl, naptol, indigosol, pewarna merah B, biru B.

3.4. METODE PENGUMPULAN DATA
1. Observasi
Melakukan pengamatan dan pencatatan dengan peninjauan langsung ke daerah perancanaan
Variabel Penelitian yang dihasilkan dalam penelitian terdiri dari:
a. Variabel bebas
Variabel bebas dalam penelitian ini adalah:
1. Penggelolaan dan pemanfaatan Limbah Padat.
2. Penggalolaan dan pemanfaatan Limbah cair.
3. Penggelolaan dan pemanfaatan Limbah gas.
b. Variabel terikat
1. Kadar HCL.
2. Banyak Kayu limbah topeng.
2. Wawancara
Menurut Prabowo (1996) wawancara adalah metode pengambilan data dengan cara menanyakan sesuatu kepada seseorang responden, caranya adalah dengan bercakap-cakap secara tatap muka.
Pada penelitian ini wawancara akan dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Menurut Patton (dalam Poerwandari 1998) dalam proses wawancara dengan menggunakan pedoman umum wawancara ini, interview dilengkapi pedoman wawancara yang sangat umum, serta mencantumkan isu-isu yang harus diliput tampa menentukan urutan pertanyaan, bahkan mungkin tidak terbentuk pertanyaan yang eksplisit.
Pedoman wawancara digunakan untuk mengingatkan interviewer mengenai aspek-aspek apa yang harus dibahas, juga menjadi daftar pengecek (check list) apakah aspek-aspek relevan tersebut telah dibahas atau ditanyakan. Dengan pedoman demikian interviwer harus memikirkan bagaimana pertanyaan tersebut akan dijabarkan secara kongkrit dalam kalimat Tanya, sekaligus menyesuaikan pertanyaan dengan konteks actual saat wawancara berlangsung (Patton dalam poerwandari, 1998)
Pertanyaan-pertanyaan tersebut antara lain :
a. Limbah apa saja yang diperoleh dari industri kerajinan topeng?
b. Bagaimana kebiasaan masyarakat menempatkan limbah industri ini?
c. Sejauh ini apa yang akan Anda lakukan dengan limbah-limbah tersebut?
d. Apa saja yang bisa dihasilkan dari pengolahan limbah tersebut?
e. Apa saja yang dapat dihasilkan dari pengolahan limbah tersebut?
f. Adakah keuntungan secara materi dari hasil pengolahan limbah tersebut? Bila ada, berapa persen dari keuntungan pertama?
g. Apakah dari limbah-limbah tersebut ada yang berbahaya?
h. Bagaimana cara Anda membuan limbah-limbah yang sudah tidak bisa didaur ulang agar tidak merusak lingkungan?
i. Sejauh ini, adakah kasus pencemaran lingkungan akibat limbah-limbah yang diperoleh dari industri? Bila ada, seperti apa peristiwanya?
j. Selama ini, adakah penyuluhan dari dinas terkait tentang pengolahan limbah? Bila iya, seberapa sering? Siapa saja yang memberikan penyuluhan itu?
k. Apa kiat-kiat yang diberikan tentang pengolahan limbah?
l. Apakah setiap pengrajin di sini melakukan pengolahan limbah dengan cara yang sama?
m. Apa saja manfaat yang Anda dapatkan dari pengolahan limbah industri? Seberapa banyak pegrajin yang melakukannya?
3. Studi literature
Dengan mempelajari buku-buku pedoman, peraturan-peraturan, arsip dan lain-lain yang berkaitan dengan system penyaluran air bersih.

3.5. METODE ANALISIS DATA
Ada beberapa teknik statistik yang dapat digunakan untuk menganalisis data. Tujuan dari analisis data adalah untuk mendapatkan informasi yang relevan yang terkandung di dalam data tersebut, dan menggunakan hasil analisis tersebut untuk memecahkan suatu masalah.
Untuk itu kami memilih metode analisis data yang berupa analisis deskriptif. Analisis deskriptif ini mempunyai tujuan untuk memberikan gambaran atau deskripsi suatu populasi.
Populasi dalam penelitian ini adalah limbah, oleh karena itu kami akan memberikan gambaran secara terinci mengenai limbah yang diperoleh dari industri pembuatan topeng di desa Bobung, Patuk, Gunung Kidul. Sehingga kita dapat mengetahui cara pengolahan limbah yang lebih efektif serta efisien.

BIODATA PENELITI
Nama : Amaliani Chandra Pradipta
TTL : Pacitan, 8 Oktober 1993
Alamat : Jalan Johar Nurhadi 3 Kotabaru

Nama : Dea Fiesta Jatikusuma
TTL : Sleman, 5 Februari 1994
Alamat : Sanan, RT 004 RW 014 Sendangarum, Minggir, Sleman

Nama : Livianinda Elza Aldila
TTL : Yogyakarta, 21 April 1994
Alamat : Jakal Km 20 Sawungsari Hargobinangun Pakem Sleman Yogyakarta

Nama : Puspita Wulansari
TTL : Samarinda, 22 September 1994
Alamat : Perum Bayeman Permai D18 Jl Wates KM 3

Nama : Suci Yohana Cahya Wijaya
TTL : Wonosari, 14 Mei 1994
Alamat : Yadara Blok I/16

Nama : Ishak Hilton Pujantoro Tnunay
TTL : Yogyakarta, 13 Maret 1994
Alamat : Jalan Mangga 49A Maguwoharjo Depok Sleman

Nama : Naufal Arif Prasetyo Wibowo
TTL : Yogyakarta, 24 Oktober 1994
Alamat : Jalan Jogja Solo Km 17

Posted in Research | Leave a comment